Agribisnis Perbenihan
Beranda » Agribisnis » Konsep Wesenwille dalam Masyarakat Pedesaan

Konsep Wesenwille dalam Masyarakat Pedesaan

Accumini.com –Konsep Wesenwille dalam Masyarakat Pedesaan. Karakteristik masyarakat desa telah lama menjadi objek kajian para ahli sosiologi, terutama sejak abad ke-19. Salah satu aspek yang menarik untuk ditelaah adalah watak masyarakat petani yang hidup dalam lingkungan pedesaan, di mana interaksi sosial lebih dijiwai oleh nilai kekeluargaan, keterikatan emosional, dan kesediaan untuk berkorban demi kebaikan bersama. Konsep “wesenwille” atau kehendak alami, muncul sebagai salah satu istilah penting yang digunakan untuk menjelaskan semangat hidup yang serba rela dan bersifat kolektif dalam masyarakat pedesaan.

Soal:

Watak dari petani yang hidup dalam masyarakat pedesaan, menurut para ahli dari abad ke-19, dijiwai oleh maksud serba rela atau wesenwille dalam pergaulan. Hal ini dikemukakan oleh ahli yang bernama:

A. Mardikanto
B. Sayogyo
C. Soekartawi
D. Samsudin

Ulasan Jawaban:

Jawaban yang paling tepat adalah B. Sayogyo.

Penjelasannya:

  • Sayogyo adalah salah satu tokoh sosiologi pedesaan Indonesia yang banyak mengkaji karakteristik masyarakat desa, khususnya petani. Ia mengadopsi dan mengembangkan konsep gemeinschaft (paguyuban) yang dikembangkan oleh Ferdinand Tönnies, seorang ahli dari abad ke-19. Dalam konsep tersebut, kehidupan masyarakat desa dijalankan berdasarkan wesenwille, yaitu kehendak alami yang muncul dari hati, didasari oleh rasa rela, kekeluargaan, dan keterikatan batin.

  • Mardikanto, Soekartawi, dan Samsudin juga merupakan ahli yang membahas tentang pembangunan dan masyarakat desa, namun mereka tidak secara khusus dikaitkan dengan teori wesenwille.

Kesimpulan:
Jawaban B. Sayogyo adalah yang paling tepat karena beliau dikenal sebagai sosiolog yang mengadaptasi teori wesenwille dari Tönnies dalam konteks masyarakat desa Indonesia.

Baca Juga  Peran Strategis Kelompok Sosial dalam Mendorong Adopsi dan Difusi Inovasi

Disclaimer:
Soal dan pembahasan ini dibuat untuk tujuan pembelajaran. Istilah dan konsep yang digunakan merujuk pada teori-teori sosiologi klasik dan adaptasinya dalam konteks Indonesia. Interpretasi dapat berbeda tergantung referensi atau buku ajar yang digunakan di masing-masing institusi pendidikan.

Scroll to Top