Beranda » Ekonomi » Terungkap! Penyebab UMKM RI Susah Naik Kelas, Ini Tantangan Besar dan Strategi Bank Indonesia

Terungkap! Penyebab UMKM RI Susah Naik Kelas, Ini Tantangan Besar dan Strategi Bank Indonesia

Terungkap! Penyebab UMKM RI Susah Naik Kelas, Ini Tantangan Besar dan Strategi Bank Indonesia – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) selama ini dikenal sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia. Jumlahnya yang masif, daya serap tenaga kerja yang besar, serta kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) membuat UMKM selalu menjadi andalan dalam setiap strategi pembangunan ekonomi nasional. Namun di balik peran vital tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak UMKM di Indonesia masih kesulitan untuk naik kelas.

Bank Indonesia (BI) baru-baru ini membeberkan sejumlah faktor utama yang menjadi penghambat pertumbuhan UMKM. Tantangan tersebut tidak hanya terkait akses pembiayaan, tetapi juga menyangkut tata kelola usaha, adopsi teknologi digital, hingga kesiapan untuk menembus pasar internasional. Temuan ini mengungkap bahwa persoalan UMKM bukan sekadar soal modal, melainkan ekosistem usaha yang belum sepenuhnya matang.

Realisasi Kredit UMKM Mengalami Penurunan

Salah satu indikator yang disorot Bank Indonesia adalah realisasi kredit UMKM. Berdasarkan data BI hingga November 2025, realisasi kredit UMKM tercatat mengalami penurunan sebesar 0,64 persen secara tahunan. Angka ini menjadi sinyal bahwa penyaluran pembiayaan ke sektor UMKM belum berjalan optimal.

Penurunan realisasi kredit ini terjadi di tengah upaya pemerintah dan otoritas keuangan yang terus mendorong perbankan agar meningkatkan pembiayaan ke sektor produktif. Namun, di lapangan, banyak UMKM yang belum memenuhi kriteria kelayakan kredit perbankan, mulai dari persoalan administrasi hingga manajemen keuangan yang belum tertata.

Kondisi ini menciptakan lingkaran masalah. Di satu sisi, UMKM membutuhkan modal untuk berkembang. Di sisi lain, keterbatasan pencatatan keuangan dan data usaha membuat perbankan sulit menyalurkan kredit secara aman.

Digitalisasi UMKM Masih Tertinggal

Tantangan kedua yang tak kalah serius adalah rendahnya tingkat digitalisasi UMKM. Bank Indonesia mencatat, hingga saat ini baru sekitar 39,4 persen UMKM yang telah menerapkan sistem digital dalam operasional usahanya.

Digitalisasi yang dimaksud tidak hanya sebatas penggunaan media sosial untuk promosi, tetapi juga mencakup:

  • Pencatatan keuangan digital

  • Sistem pembayaran non-tunai

  • Manajemen inventori berbasis teknologi

  • Pemanfaatan platform digital untuk pemasaran dan distribusi

Rendahnya adopsi teknologi ini membuat UMKM sulit bersaing, terutama di era ekonomi digital yang menuntut kecepatan, efisiensi, dan transparansi. Tanpa sistem digital yang memadai, UMKM akan kesulitan meningkatkan skala usaha dan menarik mitra strategis, termasuk investor maupun lembaga keuangan.

Kesiapan Ekspor UMKM Masih Terbatas

Faktor ketiga yang menjadi penghambat UMKM naik kelas adalah keterbatasan kesiapan untuk menembus pasar ekspor. Meski kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional terus menunjukkan tren positif, kesiapan sebagian besar pelaku usaha masih tergolong rendah.

Bank Indonesia mencatat bahwa hambatan ekspor UMKM mencakup berbagai aspek, antara lain:

  • Kapasitas produksi yang belum konsisten

  • Manajemen usaha yang belum memenuhi standar internasional

  • Akses pasar global yang masih terbatas

  • Standarisasi dan sertifikasi produk yang belum lengkap

Akibatnya, hanya sebagian kecil UMKM yang benar-benar siap bersaing di pasar internasional secara berkelanjutan.

Masalah Mendasar yang Masih Menghantui UMKM

Dalam unggahan resminya di media sosial, Bank Indonesia menyoroti bahwa banyak UMKM sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk berkembang, tetapi terhambat oleh persoalan-persoalan mendasar.

“Dalam perjalanannya, banyak UMKM ingin tumbuh lebih jauh, tapi terhambat di hal-hal mendasar, mulai dari pencatatan keuangan yang belum rapi, data usaha yang belum tersusun, hingga sistem pembayaran yang belum optimal,” tulis Bank Indonesia.

Pencatatan keuangan yang belum tertib menjadi masalah klasik. Banyak pelaku UMKM masih mencampur keuangan pribadi dan usaha, sehingga sulit mengukur kinerja bisnis secara objektif. Tanpa data yang jelas, UMKM juga kesulitan menyusun strategi pengembangan usaha.

Baca Juga  Jawaban Lembar Aktifitas 3 Ketenagakerjaan, Ekonomi Kelas 11 Hal 91

Kontribusi UMKM Tetap Besar bagi Perekonomian Nasional

Ironisnya, di tengah berbagai tantangan tersebut, kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional tetap sangat besar. Sektor ini menyumbang sekitar 60 persen terhadap PDB nasional dan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

Tak hanya itu, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional juga terus meningkat. Bank Indonesia mencatat, kontribusi UMKM ke pasar ekspor tumbuh sebesar 15,7 persen, menunjukkan potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap.

Data ini menegaskan bahwa masalah UMKM bukan pada potensi, melainkan pada kesiapan dan ekosistem pendukungnya.

Peran Bank Indonesia dalam Mendorong UMKM Naik Kelas

Menyadari besarnya peran UMKM, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pelaku usaha agar mampu naik kelas. Melalui 46 kantor perwakilan di seluruh daerah, BI menjalankan berbagai program pembinaan dan pendampingan UMKM.

“Bank Indonesia hadir mendampingi UMKM agar tumbuh lebih kompetitif, berdampak, dan berkelanjutan,” ujar perwakilan BI.

Pendekatan yang dilakukan tidak bersifat parsial, melainkan menyasar seluruh rantai nilai usaha, dari hulu hingga hilir.

Strategi BI Menarik Konsumen dan Memperluas Pasar

Salah satu fokus Bank Indonesia adalah membantu UMKM menarik konsumen dan memperluas pasar. Strategi yang diterapkan meliputi:

  • Market intelligence, untuk membantu UMKM memahami tren dan kebutuhan pasar

  • Kurasi produk, agar kualitas UMKM sesuai dengan selera konsumen

  • Promosi perdagangan, baik di dalam maupun luar negeri

  • Business matching, mempertemukan UMKM dengan calon pembeli atau mitra usaha

Melalui pendekatan ini, UMKM tidak hanya didorong untuk memproduksi, tetapi juga memahami strategi pemasaran yang efektif.

Standarisasi dan Sertifikasi Jadi Kunci

Untuk mendorong UMKM naik kelas, Bank Indonesia juga menekankan pentingnya standarisasi dan sertifikasi produk. Tanpa standar yang jelas, produk UMKM akan sulit menembus pasar modern maupun internasional.

BI mendorong UMKM untuk memenuhi berbagai standar, seperti:

  • Sertifikasi halal

  • Standar keamanan pangan

  • Standar mutu produk industri

  • Sertifikasi lingkungan dan keberlanjutan

Langkah ini dinilai krusial agar produk UMKM memiliki daya saing yang setara dengan produk dari negara lain.

Pemanfaatan Platform Digital dan Akses Pembiayaan

Selain itu, BI terus mendorong UMKM untuk memanfaatkan platform digital, baik untuk pemasaran, pembayaran, maupun pencatatan keuangan. Digitalisasi dianggap sebagai pintu masuk utama menuju efisiensi dan transparansi usaha.

Dalam hal pembiayaan, BI juga berperan sebagai penghubung antara UMKM dan perbankan. Melalui berbagai program sinergi, UMKM dibantu agar lebih siap mengakses kredit formal dengan risiko yang lebih terukur.

Sinergi dengan Kementerian dan Lembaga

Upaya mendorong UMKM naik kelas tidak dilakukan BI sendirian. Bank sentral ini menjalin sinergi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, hingga sektor swasta.

Kolaborasi ini mencakup:

  • Program pelatihan dan pendampingan

  • Dukungan regulasi dan kebijakan

  • Akses pasar dan pembiayaan

  • Penguatan ekosistem usaha di daerah

Dengan sinergi lintas sektor, diharapkan hambatan struktural yang selama ini dihadapi UMKM dapat diurai secara bertahap.

UMKM Kuat, Ekonomi Nasional Berkelanjutan

Bank Indonesia menegaskan bahwa penguatan UMKM bukan sekadar agenda jangka pendek, melainkan investasi strategis bagi keberlanjutan ekonomi nasional.

“UMKM yang kuat adalah pilar perekonomian berkelanjutan. Bank Indonesia terus mendorong penguatan UMKM agar memiliki ekosistem usaha yang semakin kokoh,” pungkas BI.

Pernyataan ini menegaskan bahwa keberhasilan UMKM naik kelas akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan daya saing Indonesia di tingkat global.

Kesimpulan

Berbagai tantangan yang dihadapi UMKM Indonesia, mulai dari penurunan realisasi kredit, rendahnya digitalisasi, hingga keterbatasan kesiapan ekspor, menunjukkan bahwa proses naik kelas bukan perkara mudah. Meski demikian, dengan kontribusi yang mencapai 60 persen terhadap perekonomian nasional dan pertumbuhan ekspor yang terus meningkat, potensi UMKM tetap sangat besar. Melalui strategi komprehensif Bank Indonesia yang mencakup pendampingan, digitalisasi, standarisasi, hingga sinergi lintas sektor, UMKM diharapkan mampu mengatasi hambatan mendasar dan tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang lebih tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan.

Scroll to Top